Termoelektrisitas: bagaimana energi listrik dapat dipanen dari panas yang terbuang

Avatar

Dwi Prananto

Menyelesaikan Sarjana Teknik Fisika di ITS (2010), Master bidang Fisika di Tohoku University (2013) dan PhD bidang ilmu material di JAIST (2019). Saat ini bekerja sebagai staf peneliti di Niigata University, Jepang.

You may also like...

5 Responses

  1. Avatar asek1 says:

    Menarik sekali pak postingannya...tapi saya masih meragukan tingkat efisiensinya. Misalkan untuk perbedaan suhu seberapa derajat bisa menghasilkan berapa ampere arus listrik. Apabila efisiensinya memang sangat kecil, bukan tidak mungkin konsep pembangkit listrik dengan perbedaan suhu ini hanya akan menjadi sekedar teori PHP. Salam super

    • Avatar dwi.prananto says:

      Sebenarnya ini bukan sekedar teori PHP, sudah banyak modul-modul termoelektrik yang dijual secara komersial walaupun efisiensinya tidak terlalu besar. Modul-modul ini banyak digunakan sebagai pendingin mini untuk miuman juga pemanen energi panas yang terbuang dari mikroprosesor dan mobil. Bahkan Badan antariksa Amerikan NASA menggunakan teknologi termoelektrik untuk pembangkit listrik di satelit dan penjelajah planet Mars, Curiosity http://en.wikipedia.org/wiki/Curiosity_(rover) .
      Saat ini dengan kemajuan sains material dan nanoteknologi beserta teknologi-teknologi penunjuangnya ilmuwan dan perekayasa dari berbagai negara sedang berusaha untuk mencari /membuat material termoelektrik dengan efisiensi yang tinggi.

  2. giganggu giganggu says:

    Kalau menurut saya, kalau konteksnya untuk memanfaatkan yang terbuang, konsep ini bisa menjadi pertimbangan meskipun efisiensinya kecil...

  3. berarti termoelektrisitas hanya bisa diaplikasikan pada benda logam yang berfungsi sebagai konduktor ya hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*